Popular

Yockie Suryo Prayogo, Antara Kejujuran dan Kesempurnaan dalam Berkarya

Jockie Surjoprajogo atau yang lebih dikenal dengan nama Yockie Suryo Prayogo, lahir di Demak pada tanggal 14 September 1954. Sepanjang hidupnya, beliau merupakan seorang musisi yang terkenal gemar mengeksplorasi berbagai macam genre seperti rock, pop, psychedelic, pop-disko, dan lain-lain. Sejak remaja, Yockie sempat hidup berpindah-pindah sehingga tergabung dalam beberapa band yang berbeda-beda pula. Sebut saja God Bless, Kantata Takwa, Swami, Suket, dan masih banyak lagi. Berikut adalah rangkuman diskografis dari karier Yockie Suryo Prayogo:

      - 6 Album bersama Chrisye

      - 5 Album bersama God Bless

      - 2 Album bersama Kantata Takwa

      - 8 Album Solo

      - 3 Album Soundtrack

      - Album bersama Swami & Suket

      - Jaguar Band & Bentoel Band

      - Pemain dan pengarah musik bagi beberapa musisi

Yockie bergabung dengan Kantata Takwa, super grup pada masanya yang beranggotakan Iwan Fals, Setiawan Djodi, Budhy Haryono, Eet Sjahranie, Donny Fattah, Sawung Jabo, juga penyair W.S Rendra. Pada tanggal 23 Juni 1990, Kantata Takwa mengadakan konser di Senayan, yang disebut-sebut sebagai salah satu konser terbesar di Indonesia dengan lebih dari 100 ribu penonton. 

Yockie juga tergabung dalam salah satu projek paling ‘mahal’ dalam sejarah musik Indonesia, Badai Pasti Berlalu. Projek ini ia garap bersama dengan Chrisye, Eros Djarot, dan Nasution Bersaudara. Album Badai Pasti Berlalu dinobatkan sebagai album Indonesia terbaik sepanjang masa oleh Rolling Stone Indonesia pada tahun 2007. 

Pada tanggal 5 Februari 2018, Yockie menghembuskan nafas terakhirnya akibat penyakit diabetes yang telah lama dideritanya. 

Untuk menggali sosok Yockie lebih dalam, kami mewawancarai anak kandungnya, Aya Anjani, beberapa waktu lalu. Berikut adalah rangkumannya.

 

1. Ya, gimana sih sosok Alm. Yockie sebagai ayah dan pemimpin keluarga?

A: “Bokap gue itu orangnya  keras tapi santai. Jadi, maksudnya dia tuh selalu kalo ngasih tau dengan nada yang keras, cuman sebenernya dia orangnya santai juga. Orangnya emang naturally nge-gas tapi niatnya baik.”

 

2. Sifat Alm. Yockie yang tegas, apakah berpengaruh terhadap kehidupan lo? Apakah sifat bokap lo yang tegas ngasih lo barrier buat berkarya?

A: “Bokap gue orangnya selalu menjadi pembicara yang tegas. Jadi, gue terbiasa menjadi pendengar yang baik daripada pembicara. Bokap gue juga image-nya itu sangat dominan di keluarga. Gue jadi lebih hati-hati kalo bersikap sesuatu. Bokap gue sebenernya juga dari gue kecil nggak pernah menyuruh gue untuk jadi musisi atau penyanyi. Tapi, karena memang dari kecil bokap selalu mengajak sekeluarga kalo latian, manggung, atau rekaman, gue dari kecil lingkungannya udah teman-teman musisi bokap gue dan selalu dengerin bokap gue kalo lagi latihan, diskusi sama orang lain, dan lain-lain. Dia juga kalo latihan pasti seharian, dari pagi sampe malem. Dari situ, gue jadi naturally pengen bermusik juga tapi bokap juga nggak pernah ngatur gue harus bikin musik yang seperti apa."

 

3. Kalo beliau sebagai musisi di mata lo, gimana?

A: “Perfeksionis, idealis, dan berprinsip. Karena bokap gue selama hidupnya nggak pernah ada profesi lain selain bermusik. Dan bermusiknya pun selalu dalam jalurnya. Maksudnya, di negara Indonesia yang industri musiknya masih terombang-ambing, dia bisa seumur hidup bermusik menurut gue “WOW” sih. Apa lagi dia juga kepala keluarga. “Selalu di jalurnya” maksud gue di sini adalah dia bener-bener bikin musik sesuai apa yang dia mau, bukan mengikuti kemauan industri atau apa pun.

Bokap gue nggak di rumah, nggak di studio, orangnya dominan sih, selalu mengatur semua. Dia yang mengatur musiknya, mixing, dll.”

 

4. Seberapa besar pengaruh bokap terhadap karir bermusik? Baik dari segi referensi sampai penggarapan?

A: “Yang berpengaruh terhadap musik gue mungkin lebih ke cara berpikir, bukan genre. Karena bokap gue dari dulu selalu mengeluh, “Di sini (Indonesia) kalo ngajarin musik tuh selalu dari doremifasolasido, bukan dari esensi musik yang punya roh”. Jadi ending-nya, banyak banget anak muda (pada saat itu) yang jago banget main alat musik tapi nggak ada energinya. Jadi ahli instrumen, jago-jagoan teknis.

Bokap gue selalu menekankan filosofi, “Lo bermusik, teknis nomor ke sekian. Kalo lo mau bermusik, lo harus bergaul, belajar dari kehidupan. Bukan belajar dari buku. Lo harus ngobrol sama orang. Teknik itu gampang, tapi lo harus punya energi bermusik”.

Bokap gue itu sering diminta, “Mas Yockie, bikin lagi dong lagu kayak Badai Pasti Berlalu”. Padahal nggak bakal bisa, karena menurut bokap gue ya udah beda eranya. Bokap gue tipe orang yang nggak bisa ngulang sesuatu yang udah dilakukan, karena lingkungannya juga beda dan udah nggak relevan. Beliau selalu ngomong, sebisa mungkin kalo bikin lagu itu yang harus bisa mewakili permasalahan yang bikin lagu. Balik lagi, kalo ngomongin lagu Badai Pasti Berlalu, ya berarti kurang lebih permasalahannya saat itu ya seperti itu. Dia nggak bisa ngulang lagu yang seperti itu karena permasalahannya lagi berbeda. 

Menurut dia, musik pop setiap era ya sudah pasti berbeda. Harusnya anak-anak yang bikin musik pop ya anak-anak yang lagi sering bergaul. Sebelum bokap gue meninggal, lagu-lagu yang lagi ‘naik’ tuh lagu cinta-cintaan yang gitu-gitu doang. Jadi menurut bokap gue, “Kenapa sih anak jaman sekarang nggak peduli banget sama lingkungan sekitar? Lagunya Cuma aku kamu aku kamu terus (cinta-cintaan). Kok nggak ada yang peduli dengan sosial”.”

 

5. Beliau tipe yang suka komentar tentang karya atau rilisan lo kah?

A: “Sebenernya dia nggak selalu komen, sih. Jadi gue tuh tipe yang terlalu takut untuk ngabarin dia. Misalnya, kalo gue lagi manggung atau rilis sesuatu, gue nggak pernah ngomong. Bokap gue pasti tau dari orang lain. Bokap gue suka nggak ngomong ke gue tapi tiba-tiba nge-post di facebook. 

Gue kan penggemar musik jepang, bokap dulu suka ngatain, “apa sih ini Jepang-Jepang” tapi diem-diem di facebook dia nge-post apa yang gue dengerin, jadi lama-lama dia ngulik juga.”

Paling suka ngasih petuah, “Teruslah berada di jalurmu” (pertahankan karakter) dan “Jangan pernah jadi orang lain”.”

 

6. Pendapat lo tentang Kantata Takwa?

A: “Bokap suka ngeluh, “Di Asia ini banyak banget orang yang suka J-Pop, K-Pop, tapi kenapa sih nggak ada I-Pop (Indonesian Pop)”. Menurut gue, Kantata Takwa itu sebenernya udah bisa mengarah ke sana. Cuman, jaman bokap gue sebelum meninggal, bokap gue selalu ngeluh, “Anak muda jaman sekarang kayak nggak ngeliat histori dari musik Indonesia sendiri”. Jadi budayanya hilang. Jadi kayak putus gitu tiba-tiba. Padahal Kantata Takwa kalo misalnya diterusin kita tuh bisa kayak Jepang, Korea. Karena kalo gue pribadi sebagai anaknya, gue paling mengagumi band-nya dia itu ya Kantata Takwa. Gue pas kecil disodori musik yang sangat unik, visualnya juga keren (Kantata Takwa). 

Gue secara pribadi emang suka band yang ikonik dan berkonsep gitu, kan. Jadi gue ‘kena’ banget. Kantata Takwa kalo lagi manggung juga stage-nya heboh banget, di tengah ada burung elang gede, teatrikal, ada W.S. Rendra (puisi di tengah lagu), ada solo gitar, syair, shalawat. Rame banget, tapi nggak berlebihan. Budaya kita banget, tapi megah. Nggak maksa harus masukin gamelan. Bokap gue sering banget bilang, salah kaprah orang yang mau meng-Indonesia-kan lagu itu dengan masukin (suara) gamelan. Padahal menurut bokap, yang namanya musik pop itu harus pake alat musik dari barat. Misalnya J-Pop dan K-Pop, nggak ada yang pake alat musik tradisional dari negara mereka.”

 

7. Mengingat lo juga terjun di industri musik, lo sering nggak sih sharing soal industri atau mungkin proses kreatifnya sama bokap lo?

A: “Gue kalo ngerilis sesuatu ya ngerilis aja karena gue jiper. Gue selalu mikir, “Kalo mau di komen nanti aja kalo udah rilis”. Takut diceramahin. Dulu sempet ngobrol sm Yudhis (suami) karena gue cuma bisa bikin lagu pake gitar. Akhirnya Yudhis nanya ke bokap tentang hal ini. Bokap bilang, “Kamu kalo makin belajar teknik biasanya malah makin bingung sama songwriting, kamu akan lebih fokus sama teknisnya, kordnya dll. Udah, mending fokus sama apa yang terjadi di kehidupan kamu. Mau menyuarakan hal yang seperti apa?”.

Single pertama gue, yang mixing bokap (judulnya ‘Hei’). Berantem mulu tiap hari di rumah. Karena gue maunya apa, bokap maunya apa. Dulu itu gue udah mixing sama orang tapi nggak sreg terus. Akhirnya bokap dengerin dan bokap coba mixing. Dulu, gue masih ambisius karena itu lagu pertama gue. Dulu, bokap selalu bilang suara gue tipis jadi harus di double, tapi gue nggak mau kalo di double-in. Bokap gue bilang suara harus di double kayak Alm. Chrisye (dulu) karena suaranya tipis. 

Padahal di EP gue yang paling baru, yang di produserin Petra Sihombing, suara gue juga akhirnya di double. Di situ gue mikir, “Oh, ini yang dulu bokap gue maksud”. Bener, ternyata.”

 

8. Waktu lo kecil atau seiring pertumbuhan lo, ada nggak sih cerita unik dari bokap lo di studio? Yang mungkin orang nggak tau?

A: “Bokap itu kalo latihan biasanya cuma 5-6 jam, tapi di studio bisa seharian. Ngobrolnya yang lama, bukan latihan yang lama. Waktu itu pernah, gue besoknya ujian akhir sekolah, tapi tetep harus nemenin bokap di studio sampe jam 3 pagi baru pulang. Selama latihan, yang (lebih) dipentingin ngobrol, tingkatin chemistry.

Kalo quotes-nya dia, “Musik itu harusnya pergerakan budaya. Ketika karya itu jadi, harus sebisa mungkin mewakili banyak orang” – Yockie. 

K-Pop dan J-Pop itu begitu. Energinya berasa. Misalnya waktu gue dan Yudhis dengerin J-Pop, “wah ini Jepang banget, nih” padahal kita aja nggak ngerti bahasanya.”

 

9. Beliau sangat mengeksplor musik dengan beragam projeknya, apa pandangan lo tentang itu?

A: “Mungkin, jadinya di gue ada sisi yang ‘nurun’ dari bokap. Gue jadi yang nggak mau berpatokan pada satu genre gitu jadinya. Mungkin karena gue emang ngeliat bokap gue dari dulu dengan musik yang beragam gitu, gue jadi berpikir bahwa sebetulnya musisi nggak harus gitu-gitu aja lagunya. Gue jadi gitu juga kalo rilis lagu. Mungkin kemaren gue agak-agak city pop. Tapi, untuk next-nya gue nggak pengen city pop lagi. Jadi (pemahaman bokap) itu secara tidak sadar menurun ke gue. Ya gue seneng aja sih sekarang gue bisa mengerti kenapa bokap gue bikin musik dengan berbagai macam genre. 

Kalo gue anaknya kan insecure juga ya, jadi sebenernya ada pikiran “orang bakal suka nggak ya?”. Kalo bokap bener-bener nggak ada sih pikiran kayak gitu.”

 

10. Karya beliau mana yang paling personal buat lo?

A: “Bokap gue kan lagu ada 300-an ya. Gue bingung hahaha. Mungkin ada ya. Gue bilang ini personal karena lagu ini nggak terkenal sama sekali. Lagunya juga diciptain pas bokap gue udah umur 58-59 lah. Itu dalam keadaan keluarga gue lagi susah banget. Terus dia nyiptain lagu yang menggambarkan situasi keluarga gue saat itu. (Liriknya) kayak istilahnya, “Anak gue mau belanja nanti dulu ya, sabar dulu” gitu-gitu. Itu sih yang menurut gue paling personal karena lagu itu relate banget. Di album “Perjalanan Waktu” judul lagunya “Sing Sabar”. Kalo ditanya lagu paling personal, ya itu. Gue ngerasa diajak ngomong juga di lagu itu.”

 

11. Ada nggak karya beliau yang lo suka dan menurut lo bagus, tapi orang nggak banyak tau?

A: “Gue sejujurnya paling suka karya-karya bokap gue yang sama Chrisye ya, yang kayaknya orang-orang juga pada tau semuanya. Lagu nikahan gue yang gue suka judulnya Nada Asmara – Chrisye. Tapi kalo yang orang-orang banyak nggak tau mungkin dulu bokap gue dulu (tahun 2000-an) pernah ngeproduserin dua solois cewek. Namanya Senny dan Yuke. Nah gue suka tuh yang (namanya) Senny. Cuma kayaknya kurang (diminati) jadi kayaknya nggak jalan.  Cuma gue lupa judul lagunya. Tapi lagu hits-nya judulnya “Maaf”.”

 

12. Dalam proses berkreatif, ada nggak kebiasaan unik yang dilakuin sama bokap saat menggarap karya? Suatu kebiasaan yang nggak bisa ketinggalan?

A: “Rokok dan kopi selalu, harus. Udah pasti berbatang-batang. Dulu bokap gue hobinya nyuruh gue atau nyokap gue bikin kopi. Makanya dulu pas minta tolong mixing gue sogok pake kopi. 

Bokap gue juga hobi main game komputer flight simulator. Kalo lagi bikin lagu dan waktunya break, bokap main pesawat dulu pake joy stick. Bokap gue tuh dari dulu hobinya air modelling. Waktu gue kecil, kerjaannya tiap minggu ke Halim. Ada kayak komunitas air modelling gitu disana. Dan tiap minggu gue kesana. Pesawat kayak gitu kan mahal banget ya, mungkin 10 jutaan. Gue nangis banget sih ngeliat pesawat diterbangin, terus jatoh, yaudah gitu aja. Menurut gue itu hobi yang, “Aduh, ini apa sih faedahnya?” hahaha. Sisi lain bokap gue tuh. Sebelum bokap gue meninggal juga sempet reunian anak-anak Halim yang rapi-rapi banget, pake baju kantor. Jarang banget tuh bokap gue nongkrong sama orang-orang kayak gitu, biasanya temennya tuh yang mukanya seniman-seniman banget.”

 

13. Sekitar tahun 2017, Alm. Yockie pernah datang ke Suara Disko bersama Eros Djarot. Apa yang membuat beliau tertarik buat datang? Di mana acaranya di tempat sempit dan isinya anak muda.

A: “Sebetulnya bokap gue itu pengen banget bisa bergabung dengan anak muda. Bokap gue itu selalu bilang, “Kok sekarang itu jadi terputus yang generasi muda dan generasi tua? Kayak masing-masing banget”. Apa yang udah dibangun sama generasi dulu, nggak diterusin sama generasi muda. Bokap gue itu pengen dan seneng banget kalo anak muda ngajak dia. Kejadiannya, pertama kali waktu Pure Saturday ngajak bokap gue (kolaborasi). Bokap gue langsung nyari tau tentang Pure Saturday. Seneng banget pas tau mereka band anak muda. Bokap gue tertarik karena emang bokap gue merasa bertanggung jawab atas apa yang udah dia perbuat. Dia ngeluh, tapi pengen bertindak dan menyampaikan langsung aspirasi terhadap musik pop. Bokap gue seneng banget kalo diajak ke acara anak-anak muda, nggak pernah absen.

“Nah, lagu Juwita itu dulu diciptain emang harusnya untuk seperti ini. Buat anak muda joget-joget dengan nuansa seperti ini” – Yockie.

Dia kayak puber lagi pas dateng ke Suara Disko. Minum-minum, joget-joget. Waktu itu padahal udah sakit, hahaha.”

 

14. Setelah itu, gimana pandangan bokap lo terhadap fenomena musik pop kreatif jaman dia dulu yang kembali meledak dan digandrungi anak-anak muda? Mereka hafal liriknya, padahal pada tahun dibuat mereka bahkan belum lahir. Apa lo sempet bahas dengan bokap?

A: “Gue lupa sih dia pernah ngomong-ngomong sesuatu apa tentang itu. Tapi yang gue tangkep dia waktu itu seneng banget. “Oh, ternyata anak-anak muda masih ya dengerin lagu-lagu ini?” dulu dia bilang gitu. Cuma keliatan, bokap gue tuh kalo abis ke acara yang dia suka, pulangnya tuh happy, nggak bisa tidur, terus posting di facebook.”

 

15. Selain secara musikalitas, bokap lo termasuk yang peduli sama penampilan atau looks diatas panggung kah? Apa si outfit kesukaan bokap lo buat manggung? Ada nggak, barang spesifik yang mesti dia pake. Misalnya scarf atau sepatu harus yang itu.

A: “Bokap gue tuh orang yang nggak mau diatur. Paling waktu itu sempet disuruh manggung di AMI Awards. Disuruh pake baju macem-macem yang khas TV lah, gemerlap segala macem. Bokap gue nggak mau. Jadi yang selalu jadi stylist dia ya gue dan nyokap gue. Jadi sebenernya, bokap gue peduli soal penampilan, tapi dia nggak pede memutuskan sendiri. Jadi selalu nanya gue atau nyokap gue. Kalo terakhir-terakhir, yang selalu dipake ada kalung peace. Mungkin jadi ikonik ya itu. Sekarang nyokap gue kalo kemana-mana (acara musik) selalu pake itu (kalung peace).”

 

16. Ada nggak ilmu  dan petuah dari beliau, yang lo pegang teguh baik untuk kehidupan maupun karir bermusik lo?

A: “Kalo gue lebih nangkepnya sih soal karakter dan jadi diri sendiri, sih. Bokap gue pernah nge-post petuah di facebook. 

‘Jangan menjadi bayangan orang lain jadilah cermin memantul apa adanya.

Bukan juga menjadi corong bagi mulut-mulut yang sering berbusa. 

Tapi pendengar yang selektif bagi bisingnya suara alam. 

Jangan jadi buku sejarah jadilah pelaku jaman aktif.

Jangan menantang derasnya arus jangan juga mengalir terbawa gelombang. 

Jadilah mata angin bagi layar berkembang.

Seperti lautan yang dampak diam di kaki langit. 

Jakarta, 11 Maret 2009’”

You May Also Like